jump to navigation

Nomor 24 : Jurnal Kesepuluh June 23, 2009

Posted by NENG TITOH SITI HAPSOH in : Uncategorized , comments closed

Total Undangan yang disebar ada 1300! wow! ini melebihi target! itupun dengan kondisi masih ada yang belum dikasih undangan.

Souvenir : selesai tepat waktu.

Kebaya Akad : Selesai tepat waktu.

Perawatannya :

“Nuurun ‘alaa Nuurin

Nomor 23 : Jurnal Kesembilan June 8, 2009

Posted by NENG TITOH SITI HAPSOH in : Uncategorized , comments closed

Sekedar Meringankan ganjalan didahi!

Bukannya ada batu tersangkut didahi, ataupun serat kapas tersumbat dikepala atau bukan juga air tersendat alirannya didalam tempurung batok kepala ini.

Akan tetapi ada yang lebih keraas! ah, bahkan lebih halus dari kapas! bukan, lebih tipis dari serat benang! bukan juga. 🙁

Karena yang terganjal itu bukan benda abstrak!

Melainkan sesuatu yang membuat benda abstrak lain terdiam!

Dahi ini mengernyit terus menerus

Sudah berapa kali masker bermerk nama ibu-ibu tua kutempelkan sekedar menghilangkan kesan kelelahan yang pasti akan nampak didahi ini.

Sudah berapa kali?

Namun rasanya gagall!

Memangnya ada apa?

Agenda demi agenda yang tak terencana tiba-tiba muncul, saat waktu kian menyempit, saat raga kian melemah, saat jiwa kian gersang.

Semoga saja ini akan segera berakhir

Ikhtiar telah kujalanknan

Do’a sudah kupanjatkan

Tawakkal sudah kuucapkan

Aku harus apa lagi?

Laa Hawla Wa Laa Quwwata Illaaa Billaah…

Nomor 22 : Pilih yang mana June 3, 2009

Posted by NENG TITOH SITI HAPSOH in : Uncategorized , comments closed

Pilihan adalah sesuatu yang kadang bisa membuat manusia terjebak. Adakalanya pilihan adalah baik, adakalanya sebaiknya tidak memilih saja. Pilih-pilih yang sesuai, ah, cuman souvenir saja sampai harus diposting disini. Biarkan saja. Awalnya sangat ingin souvenir berupa gelas dengan hiasan graveur namaku dan calon suami, namun, gelas itu benda makan tempat dan massanya berat. Akhirnya tidak jadi gelas, Jatuhlah pilihan ke kipas -Wangi- cendana. bukan kipas cendana. Cukuplah diatas kipas -wangi- cendana namaku dan nama calon suamiku terukir sebagai kenang-kenangan para pemberi do’a restu.

Bukan itu saja, memang manusia seperti tak pernah ada puasnya. Jumlah pesanan kipas cendana hanya sepertiga dari jumlah undangan yang disebar, sehingga akan sangat kurang etis jikalau duapertiga undangan lain “hanya” menikmati hidangan saja. Penelusuran berakhir pagi tadi, ketika sampai ke situs Asemka, ada dompet batik HP yang cocok dengan selera. Karena ada unsur batiknya, -mengingat calon suamiku berasal dari kota batik, Jogja- maka terpilihlah  souvenir itu. Biarlah tanpa sablon namaku dan calon suamiku. Proses jual beli belum dilaksanakan.

Semoga Allah meridhoi kami. Aamiin.

Nomor 21 : Sesampainya di jogja May 31, 2009

Posted by NENG TITOH SITI HAPSOH in : Uncategorized , comments closed

Pukul 4.21 kereta api lodaya baru tiba distasiun tugu jogja, 2 orang terdekat menjemputku. Kakak dan mas.

Terima kasih untuk kalian.

Lanjutkan aktifitas.

Cek souvenir -belum jadi-

Survey salon -SS Wulandari, mulai perawatan sekitar tanggal 16 Juni aja-

Cek Kebaya -Belum sempet-

Um,,,

Allah, engkaulah sang pengatur hidupku, Berikanlah aku ketabahan. Aaamiiin.

Nomor 20 : Jurnal kedelapan May 31, 2009

Posted by NENG TITOH SITI HAPSOH in : Uncategorized , comments closed

Masih di hari Senin, 25 Mei 2009

500 lembar undangan dipesan. pemesanan undangan jatuh ke art detail di purwakarta. ah, tak mau banyak komentar tentang ini. -means, ada kekecewaan-

Nomor 19 : Jurnal ketujuh May 31, 2009

Posted by NENG TITOH SITI HAPSOH in : Uncategorized , comments closed

Senin, 25 Mei 2009

Hari ini, agendanya adalah ke perias. Dapat info dari saudara, ada rias pengantin yang bagus di pasawahan, purwakarta.

Paket lengkap :

– Rias pengantin

– Gaun pengantin

– Dekorasi

– Peralatan Catering

– Sound System

– Photography

– dan hal-hal kecil lainnya

– soal harga? just give me your email address.  😀

Ceu Hj. Lilis, Pasawahan, Purwakarta.

Nomor 18 : Jurnal Keenam May 31, 2009

Posted by NENG TITOH SITI HAPSOH in : Uncategorized , comments closed

Sabtu, 24 Mei 2009, Ruang Tengah Rumah di Palinggihan

Saya, hanya menyampaikan mandat saja, dari kakak saya, bahwasanya, putera kami dan puteri bapak sudah sama sama dewasa hendak membina ikatan rumah tangga, dengan benda yang hanya sedikit kami miliki, apakah keluarga disini menerima pinangan kami terhadap puteri bapak?

Iya, kami terima, mudah-mudahan puteri kami dapat memperoleh kebahagiaan dengan putera bapak

Terbata-bata orangtuaku menjawabnya. Bukan karena apa-apa, akan tetapi orangtuaku memang sangat jarang menggunakan bahasa selain sunda, dalam hal ini bahasa melayu.

12.30 baru selesai obrolan itu.

Nomor 17 : Menuju Palinggihan May 21, 2009

Posted by NENG TITOH SITI HAPSOH in : Uncategorized , comments closed

Palinggihan,

Dengan barang – barang bawaan yang sudah siap packing, tinggal berangkat. Tanaman hias pesanan, Adenium, Aglonema, Gelombang Cinta Giant, Puring, sudah rapih terbungkus kardus bekas minyak goreng, juga kain batik siap jahit yang dibeli dari solo yang berjumlah puluhan meter dan beragam motif khas solo. Kecuali brokat untuk akad nikah yang sengaja ditinggal di penjahit kebaya yang ada di jogja.

Perjalanan selama tepat 8 jam menggunakan kereta api Lodaya malam akan terasa dingin karena di atas tiketnya tertera “Kelas EKSEKUTIF” yang pasti gerbongnya akan full dengan ase. Biasanya sesampainya di stasiun tujuan, gigi terasa ngilu, bibir kaku, Hmmm apa mungkin karena tubuh ini sudah terbiasa dengan kelas ekonomi paling mahal juga kelas bisnis saja ya, sehingga kalaupun sekali harus naik gerbong yang kelas “MAHAL” itu adaptasi tubuh juga teramat sangat signifikan. Tiket itupun didapat gratisan dari calon suamiku. Terima kasih ya mas.

Pak de, Om, Mas, Kakak, dan aku, yang sudah siap dengan perjalanan itu.

Allahu Robby,,,,

Bismillaahi Tawakkalnaa ‘Alallaah,

Laa Hawla Wa Laa Quwwata Illaa Billaahil’aliyyil ‘Adziim….

Nomor 16 : Layout Desa Baru May 20, 2009

Posted by NENG TITOH SITI HAPSOH in : Uncategorized , comments closed

Penulisan pada arah penunjuk jalan dengan ejaan salah. Alasannya si katanya karena sekarang sudah jaman modern sehingga kampung saya mempunyai nama yang lebih keren. Katanya si begitu. Tapi, kok tampak jelek ya rasanya. Seperti dipaksakan. Jalan mulai beraspal, mobil truk sangat panjang sangat lebar dengar supir seperti orang cina berkacamata hitam melintas seperti kecepatan cahaya, jalanku terseok seok, merangkak diatas aspal baru itu. Menuju ke tempat pemakaman saudara jauh yang letaknya tidak jauh dari rumah tinggal semasa kecil. Nuansa putih hijau. Aneka makanan dihidangkan oleh tuan rumah. Keluarga lain sudah berkumpul. Tak ada isak tangis, katanya acara pemakaman, tapi aneh, itu seperti acara menyambut besan pernikahan saja, tidak terlihat suasana duka, atau hitam kelam, yang terlihat hanya putih dan hijau, bahkan tanah yang diinjakpun berkilauan, sama sekali tak ada warna gelap. Ketela goreng krenyes sudah ada ditasku, aku memakannya, lama sekali mengunyah, tak sabar ingin mengunyah potongan ketela lain, tapi yang dimulut pun belum robek semua oleh gigiku yang terasa sangat lemah.

 

Jalan terseok diatas aspal baru,

Mengunyah ketela tidak kunjung usai,

Hijau, dan putih,,

Kemudian, lampu neon sekitar lima senti itu padam,

kucoba menyalakannya, akhirnya terang juga…

Nomor 15 : Jurnal Kelima May 17, 2009

Posted by NENG TITOH SITI HAPSOH in : Uncategorized , comments closed

Sabtu, 16 Mei 2009

Pencarian kedua.

Karena kain yang dibeli dari solo tidak tepat, jadilah hunting lagi di jogja. Pakaian untuk akad nikah itu memang sunnahnya berwarna putih, lha yang didapat dari solo kemarin malah berwarna kopi susu. Yasudah akhirnya di jogja, tepatnya jalan solo (sama-sama solo. 🙂 ) dapatlah kebaya warna putih, bagus. motif silver. model baru. Baru tiga hari barangnya datang, begitu kata pelayan tokonya. Pelayanan ramah, pembeli bebas memilih model sesuka hati sambil duduk manis di kursi yang disediakan. Ah, baru sekarang rasanya belanja di toko dengan pelayanan seperti itu. Toko Megah, Jl Adisucipto alias Jl. Solo.

Sorenya, bareng calon suami kepenjahit yang khusus menjahit kebaya, dan kabarnya hasilnya bagus. Bahkan ketika sampai ditempa penjahitnya pun sedang ada yang order kebaya pengantin juga, lalu pengunjung lain yang baru datang untuk menyewa kebaya malah berkata : “wah, mba, ibuku bilang kalu jahit kebaya ditempat lain malah hasilnya jelek, jadi sudah enak disini.”

Inspirasi model kebayanya campuran, antara model dari situs butikangel.com dengan model dari penjahitnya, juga ada tambahan model dari majalah yang tersedia sangat banyak di tempat jahitnya. Jahit Full Payet Jepang. Kelebihan dari payet jepang ini selain kilauannya tidak mudah luntur, juga lebih awet. Begitu kata penjahitnya. Minimal satu bulan untuk menjahit full payet, berarti tanggal 17 Juni sudah bisa diambil. Insya Allah.

Alhamdulillah,,,

Twitter widget by Rimon Habib - BuddyPress Expert Developer