jump to navigation

Nomor 33 : Ngunduh Mantu November 9, 2009

Posted by NENG TITOH SITI HAPSOH in : Uncategorized , comments closed

Yogyakarta, 16 agustus 2009

Mengenakan busana Kanigaran Yogyakarta, Pengantin adat khas yogyakarta

Dokumentasi ada disini

Poo, Nomor berapa ini? November 9, 2009

Posted by NENG TITOH SITI HAPSOH in : Uncategorized , comments closed

Bukan manusia yang suka membuka diri

Bukan Orang yang pandai mencurahkan rasa

Bukan tangan yang lihai merangkai kalimat

Bukankah seharusnya memang tidak ada aturan

Now that;s raining more then ever,,,” -Umbrella, Rihanna-

Nomor 32 : Dokumentasi July 20, 2009

Posted by NENG TITOH SITI HAPSOH in : Uncategorized , comments closed

Foto Prewedding ada

disini

dan

Dokumentasi Foto Pernikahan ada

disini

Nomor 31 : Jurnal ketujuh belas July 6, 2009

Posted by NENG TITOH SITI HAPSOH in : Uncategorized , comments closed

Sejak pukul 9 pagi hingga usai adzan maghrib, pasangan pengantin masih berada dipelaminan, hingga akhirnya memutuskan untuk mengakhiri saja, karena rasanya sangat lelah.

Setelah membersihkan diri, kami beristirahat.

Papah sayang mamah…

Kalimat indah pengantar tidur dimalam pertama membuat lelah ini terasa hilang. Terima kasih suamiku.

Mata terasa berat, badan terasa pegal, akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat saja.

Papah sayang mamah…

inipun kalimat pertama yang terdengar saat terbangun dihari senin, 30 Juni 2009 beriringan dengan suara adzan shubuh, hah, terasa amat indah, tidur ditemani seorang yang akan mendampingiku menghabiskan sisa waktu bernafas didunia ini.

Allah, inikah indahnya pernikahan itu? Tiada dendam meski raga lelah, tiada prasangka buruk pada suamiku, semuanya terasa indah saja. Terima Kasih Allah… Sesak yang sering terasa didada saat masa perkenalan dahulu akibat perlakuannya kini terbang entah kemana,,,

Nomor 30 : Jurnal Keenam Belas July 6, 2009

Posted by NENG TITOH SITI HAPSOH in : Uncategorized , comments closed

Acara akad nikah selesai, saatnya pengantin menuju pelaminan.

Putih, Hijau, Coklat, dan Biru, Warna kebaya yang dikenakan selama satu hari itu.

Tamu undangan mulai berdatangan, satu persatu memberikan do’a pada kami berdua.

Alhamdulillah,,,

Nomor 29 : Jurnal kelima belas July 6, 2009

Posted by NENG TITOH SITI HAPSOH in : Uncategorized , comments closed

28 Juni 2009 08:15

setelah segala persiapan selesai, terdengar suara lafadz ijab qobul dari dalam rumah. Mempelai putri memang belum diperbolehkan berrtemu mempelai pria sebelum sah dinikahkan.

Tak berapa lama, terdengar suara yang memanggil “Neng Titoh Siti Hapsoh”, saat itu juga aku dibopong oleh jeng Tuti menuju tempat akad nikah untuk menandatangani surat-surat dari negara.

Kini, sah sudah aku istrinya

Suamikku masih membaca taklik nikah saat aku menandatangani beberapa kertas itu. Malu rasanya ingin meliriknya.

Aku ikhlaskan diriku atasmu, suamiku.

Nomor 28 : Jurnal keempat belas July 6, 2009

Posted by NENG TITOH SITI HAPSOH in : Uncategorized , comments closed

Ahad, 28 Juni 2008.

Tepat pukul 4 pagi, tanpa alarm handphone, tanpa kokok ayam, tanpa ketokan pintu mata ini sudah terjaga, kantuk terasa sirna, badan terasa segar, suasana hati terasa riang, “Allah, inilah hari terindah yang Kau anugerahkan untukku…

05.30 perias sudah siap dengan segala peralatan make – upnya. seperti orang mau piknik selama sebulan saja barang bawaannya sangat banyak, mungkin ada sekitar 2 koper ukuran sedang ditambah 1 koper jumbo. belum lagi barang2 lain yang tiak ter-koper-kan.

Atas perintah nyonya Perias, saya harus berbaring, beuh, baru kali ini ber-make-up sambil berbaring.

Yang pertama kali dioles pada wajah adalah Es Batu ! gak tahu apa maksudnya, yang jelas terasa amat dingin diwajah, dilanjutkan dengan macam-macam bedak seperti ditumpahkan ke atas wajah ini. serasa tebellll banget.

Ah, untuk sekali ini saja aku tidak mau protes.  Agar perias dapat mengekplorasi kemampuannya sendiri.

Dan.. Ou.ou… hasilnya?

saat hendak berkaca, perias malah bilang seperti ini: “Jangan lihat kaca dulu ya, Neng!

Ah, yasudahlah, padahal sudah penasaran hasilnya bagaimana. Huh.

Entah siapa yang pertama kali berkata : “Euleuh, meni siga India…” Hm, maluuu rasanya dibilangin seperti itu. Apakah tampak norak atau bagaimana sampai terlontar kalimat seperti itu.

Tak lama, terdengar lagi komentar ini: “Nya da tara dangdos, jadi meni asa pangling, meni geulis..

Alhamdulillah, ternyata dugaan “Norak”ku gak terbukti.

Setelah merasa siap, barulah memberanikan diri menghadap cermin. Hm,,, “I Love you, Perias!” “is it me?” “where is my face?” “Who is that?” banyak banget pertanyaan muncul dihati, rasanya sangat pangling,,, wajah asliku tertutup make up. But, yang bikin aku seneng, Jadi lebih merona berseri! 🙂

Nomor 27 : Jurnal ketigabelas July 6, 2009

Posted by NENG TITOH SITI HAPSOH in : Uncategorized , comments closed

Sabtu, 27 Juni 2009

Rombongan mempelai pria telah tiba ditanah purwakarta, dengan jumlah sekitar 26 orang tampak raut lelah pada wajah mereka. Hidangan seadanya disediakan untuk menghilangkan rasa lapar mereka. Pondok kecil nan tua telah dipersiapkan untuk tempat istirahat mereka.

H-1 Menjelang Akad nikah, terasa semakin kencang dentuman didada.

Laa Haula…

Nomor 26 : Jurnal Keduabelas July 3, 2009

Posted by NENG TITOH SITI HAPSOH in : Uncategorized , comments closed

Jum’at, 26 Juni 2009

Prosesi untuk calon pengantin putri : Facial dan Luluran.

Dekorasi pelaminan, catering, dan lainnya mulai dipasang.

Sabtu, 27 Juni 2009

Masih dilanjutkan dengan pemasangan dekorasi.

Aneka hidangan masakan mulai dimasak dan disiapkan, Mulai dari Sate Sapi, Rendang daging, Semur daging, Bistik sapi, Pepes Gurameh, Kimlo, Acar, Bihun Goreng, Sambal Goreng Kentang, Kering kentang, Sambal, Soto sapi, ditambah camilan Es cendol, Aneka buah, Es Krim Tape Ketan, ah, entah apa lagi, Lupa, saking banyaknya aneka masakan yang tersedia, belum lagi macam – macam kue yang didapat dari tetangga – tetangga dan saudara dari daerah jauh, Kalo masih ingat, ini kuenya yang -kelihatan- ada : Koci, Papais Asin, Dodol, Bibika, Gegeplak, Bugis, Bolu, Wingka, Engka, Ranginang, RO, Kembang Goyang, Kembang Eros, Haduh entah apalagi, Lupa.

Jikalau semua makanan itu menyediakan sendiri entah berapa banyak dana yang diperlukan dan juga tenaga dan waktu yang terpakai untuk membuat kesemuanya itu, Itu semua adalah berkah dari Allah SWT, yang secara -entah bagaimana caranya- semua makanan itu tiba – tiba datang, Itulah enaknya tinggal di kampung/desa, karena nuansa kekeluargaannya masih kental meskipun tak ada setetes darahpun saling bertalian ikatan keluarga antara masyarakat desa sehingga saat ada hajatan pernikahan misalnya, mereka selalu saling membantu satu sama lain.

Lelah,,,

Nomor 25 : Jurnal Kesebelas July 3, 2009

Posted by NENG TITOH SITI HAPSOH in : Uncategorized , comments closed

Jogja, 23 Juni 2009. 21:27

Bertolak ke Bandung dengan Lodaya Malam kelas Bisnis ditemani seorang teman dari jogja, berdua menghabiskan malam dikereta.

Bandung, 24 Juni 2009 05:45

Tiba di stasiun Bandung dengan selamat, Adikku menjemput kami.

Cirata, Plered, 24 Juni 07.21

Berwisata dikawasan Waduk Cirata. Sangat Indah. Saksi bisu akan segera di upload.

Palinggihan, plered, 08:00

Tiba dirumah, Istirahat,,,

Twitter widget by Rimon Habib - BuddyPress Expert Developer